Saya bukan orang yang berbakat mempelajari bahasa. Tinggal di berbagai tempat dalam waktu cukup lama pun tidak membuat saya jadi pandai berbahasa lokal. Saya bisa meniru logat tetapi ketika lawan bicara membalas dan menggunakan bahasa lokal, saya langsung terdiam. Mati kutu… Saya pernah sok-sokan menggunakan logat Bali ketika mengobrol dengan seorang nenek, dan alhasil, ketika beliau bercerita menggunakan bahasa Bali, saya hanya bisa senyum sambil manggut-manggut sok mengerti. Maafkan saya nenek…
Padahal jelas, bahasa merupakan suatu faktor yang penting ketika kita melakukan perjalanan. Masalah bahasa ini membuat beberapa perjalanan saya menjadi sangat menantang. Yang saya maksud di sini bukan hanya perjalanan ke luar negeri. Bahkan, banyaknya bahasa daerah di Indonesia saja membuat saya juga sering terbengong-bengong dan akhirnya menggunakan bahasa isyarat. Walaupun demikian, minimal di jalan masih menggunakan Bahasa Indonesia. Begitu juga saat di luar negeri. Walaupun di negara yang tidak menggunakan Bahasa Inggris, minimal tulisan di jalan masih menggunakan huruf latin. Nah, perjalanan menantang adalah ketika tulisan pun menggunakan bahasa resmi negara tersebut. China adalah salah satu contohnya.
Ketika melakukan perjalanan ke China, ada suatu kesempatan saat saya bergabung dengan beberapa teman yang menginap di hostel yang sama pergi ke suatu tempat. Saya bukan termasuk orang yang suka bergabung dalam tour dan sebisa mungkin menghindari pengaturan perjalanan seperti itu. Namun, saat itu, pilihan kami tidak banyak. Waktu itu kami tinggal di sebuah ancient city di China, namanya Pingyao. Pingyao itu sendiri bukan kota yang besar dan dapat dijelajahi dengan berjalan kaki. Hanya saja saat itu kami ingin menuju suatu tempat di luar Pingyao, dan ternyata tidak ada transportasi publik menuju ke sana. Pemilik hostel ternyata juga bisa mengatur transportasi untuk kami yang ingin bersama-sama pergi ke tempat-tempat tertentu. Akhirnya saya mendaftar untuk ikut pergi bersama-sama ke satu tempat. Tujuan kami saat itu adalah underground castle yang letaknya di luar Pingyao.
Pagi- pagi kami berkumpul di lobby hostel. Selain saya, ada 5 orang lagi yaitu 2 orang pria dari Israel, 1 pasangan muda dari England dan 1 pelajar dari Korea. Kami naik mobil tanpa briefing dulu tentang apa yang akan terjadi. Kami berpikir bahwa nanti akan dijelaskan di jalan, atau minimal sopirnya bisa Bahasa Inggris. Daaaan, ternyata kami salah besar. Yang terjadi saat itu adalah: kami semua tertidur di dalam mobil. Mungkin kami semua kelelahan juga, karena hampir semua sedang di tengah perjalanan panjang di China ini. Kami terbangun ketika kami sampai di suatu titik, yaitu “Wang Family’s courtyard” dan dalam keadaan masih termangu-mangu, sopir berbicara dalam Bahasa China, menunjuk ke arah gerbang bangunan, menunjuk ke arah jam, lalu menunjuk ke arah tempat parkir. Kami semua bengong. Err, maksudnya apa ini?
Untunglah si pelajar Korea ini ternyata bisa juga bahasa China. Dia menerangkan bahwa kami diberi waktu untuk berjalan-jalan di family courtyard ini, dan nanti pukul 12 siang kami diharapkan berkumpul kembali di tempat parkir. Sejujurnya kami agak kurang mengerti dengan pengaturan ini, karena kami kira kami akan langsung menuju underground castle. Tapi sudahlah, sudah di sini mana mungkin kami tolak? Kami lalu berpencar. Saya jadi berjalan bareng si pelajar Korea yang ternyata juga hobi motret. Lumayan, ada beberapa foto saya yang berhasil diabadikan oleh dia. Beginilah nasib solo traveler, bergantung pada pejalan lainnya. Si pelajar ini Bahasa Inggrisnya bagus juga sehingga kami bisa berkomunikasi dengan lancar. Pada akhirnya sih kami berenam bersama-sama lagi, termasuk makan bersama di tempat makan tak jauh dari tempat parkir.
Saat makan, kami jadi tahu bahwa si gadis dari England ternyata alergi zat makanan tertentu, termasuk mie karena mengandung zat tersebut. Biasanya dia memilih makan nasi. Saya juga memutuskan untuk makan nasi. Saya lalu iseng bertanya, ada yang tahu bahasa China-nya nasi? Di luar dugaan, dua teman dari Israel ini langsung kompak menjawab. Mereka bahkan memandang saya cukup lama dan berkata bahwa mereka mempelajari beberapa kata dasar yang penting sebelum mereka melakukan perjalanan ke sini. Dengan lancar mereka menyebut huruf 1-10, seratus, seribu dll dll dalam Bahasa China. Lalu jenis-jenis makanan pokok. Arah. Kata sapaan. Dll. Saya nyengir. Saya tahu harusnya saya juga mempelajari kata-kata itu. Salah satu persiapan sebelum bepergian adalah mempelajari, kalau bisa menghafal, kata-kata dasar/sederhana untuk bisa survive di tempat tersebut. Ya, saya memang tidak mengerjakan pe-er saya…
Jadi, bagaimana saya bisa survive di China? Pertama adalah dengan bantuan buku Lonely Planet China. Di buku ini, banyak sekali tulisan tempat yang selain ditulis dengan bahasa Inggris, juga ditulis dengan bahasa China. Di bagian belakang malah ada bagian khusus yang isinya kata-kata dasar yang penting untuk dipelajari. Kalau tidak salah bahkan ada Bahasa Tibet. Saya anjurkan untuk memfotokopi bagian tersebut (bukunya tetap dibawa). Alasannya sih jelas karena buku LP China ini berat. Bagaimana dengan saya? seperti yang tadi saya bilang, saya tidak sempat melakukannya. Terpaksalah saya kemana-mana membawa buku berat ini. Worth bringing, though. Sangat membantu. Tanpa buku ini, saya mungkin tidak bisa selancar kemarin melakukan perjalanan. Walaupun demikian, jangan kentara membawa buku ini atau menenteng/membacanya di tempat umum, karena akan langsung ketahuan bahwa kita itu turis (jangan terlalu menyolok lah). Simpan buku di dalam tas, dan bacalah di hostel atau di kedai makanan saat kita istirahat.
Kedua adalah meminta orang lokal untuk menuliskan tujuan kita dalam Bahasa China. Saya sempat beberapa hari tinggal di tempat sahabat di Beijing, dan meminta bantuan “pembantu” dia untuk menuliskan tujuan saya dalam Bahasa China. Waktu itu beliau membantu saya menuliskan alamat stasiun kereta api lengkap dengan letak loketnya, dan juga bandara dan terminalnya. Sejujurnya saya tidak bisa membedakan apa yang dia tulis, di mata awam saya sepertinya tulisannya sama saja. Tetapi percaya atau tidak, karena hal ini, saya bertekad untuk belajar Bahasa China dan lain kali jika ke sana lagi, saya tidak akan sebodoh ini. Saya sangat yakin bahwa saya akan ke China lagi. Negara ini terlalu luas jika hanya dikunjungi satu kali saja!
Ketiga, menggunakan bahasa isyarat. Saya menirukan suara kereta dan menggerakkan tangan seperti deretan gerbong kereta api ketika ingin diantar ke stasiun oleh pengemudi battery car di Pingyao, menirukan pesawat terbang yang sedang take off ketika ingin diantar ke bandara, dan menggunakan jari ketika memesan makanan atau menawar barang. Juga masih banyak bahasa isyarat lainnya. Intinya sih mencoba menirukan semirip mungkin apa yang kita maksud.
Keempat, bertanya kepada orang muda. Alasan saya? Mereka mungkin belajar Bahasa Inggris di sekolah, dan cukup senang mencoba hal baru seperti mempraktekkannya dengan orang asing. Saya tidak terlalu menganjurkan bertanya kepada petugas atau polisi, karena pengalaman saya beberapa kali tidak berhasil, malah ada beberapa yang langsung memberikan isyarat menolak dengan tangan, bahkan langsung pergi. Tetapi saya hampir selalu berhasil ketika bertanya kepada orang-orang muda. Walaupun tidak sepenuhnya berbicara dengan lancar, mereka dapat mengerti apa yang saya maksud dan membantu saya. Ngomong-ngomong, saya beruntung karena orang-orang yang saya temui semuanya baik sekali. Mereka semua betul-betul berusaha untuk membantu. Tentunya jangan lupa untuk bersikap sopan, hormat dan selalu tersenyum ya!
Kelima, memilih tempat tinggal yang cukup populer dengan pejalan internasional. Jika perlu berbelanja di convenience store, pilihlah yang lokasinya dekat dengan hostel atau tempat tinggal para backpacker. Biasanya mereka mempunyai petugas atau volunteer yang berbahasa Inggris dengan baik. Keuntungan tambahan lainnya adalah banyak teman pejalan lain yang biasanya berbahasa Inggris dengan baik. Kita bisa saling bertukar tips menjelajah yang efektif dan murah, atau bisa bertanya hal-hal sederhana seperti tempat laundry, kantor pos, telepon umum, dll. Termasuk membeli suvenir dengan harga normal, bukan dengan harga mencekik karena diberi harga berlipat dibandingkan harga aslinya. Saya bukan pejalan yang hobi membeli suvenir, tetapi membeli barang kenangan adalah hal wajib di setiap tempat yang saya kunjungi, walaupun hanya memento kecil atau murah saja!
Bagaimana dengan gambar? Ini bisa menguntungkan tapi bisa juga merugikan. Pengalaman saya ketika memilih makanan, ini banyak merugikannya karena sebagian besar penampilan di gambar berbeda dengan aslinya. Lebih rumitnya lagi adalah saya pesco-vegetarian, atau vegetarian tapi masih makan ikan. Saya sudah melakukannya sejak belasan tahun yang lalu, dan menerangkan hal ini kepada petugas di restoran bukan hal yang asing lagi. Akan menjadi rumit ketika kosakata kita terbatas, apalagi jika lawan bicara kita tidak mengerti apa yang kita maksud. Jika pun pakai penerjemah, biasanya mereka tidak mengerti dan pasti bertanya, “Kenapa?”. Baiklah.
Hal yang menarik terjadi ketika saya berada di Pingyao. Ketika sedang memilih makanan, petugas tiba-tiba menyodorkan sebuah album berupa clear folder yang isinya tulisan dalam bahasa Inggris, di sebelahnya ada panah tulisan bahasa China. Saya menemukan satu tulisan: “I am vegetarian”. Waah hebat. Saya langsung tunjuk tulisan itu dan alhasil saya lalu ditunjukkan beberapa menu yang hanya menggunakan sayur sayuran. Saya lalu memilih makanan yang berbahan dasar terong (jadi teringat bahwa untuk makanan India saya juga biasanya memilih terong). Siapa pun yang menuliskan list makanan ini, jasa anda abadi, Bung! Saya yakin banyak sekali yang sudah terbantu dengan tulisan dua bahasa ini.
Ah, sepertinya saya sudah terlalu banyak menulis. Yang saya tulis di atas bukan hanya berlaku untuk negara China saja, tetapi juga untuk tempat lain yang bahasanya tidak kita pahami. Intinya adalah jangan sampai kendala bahasa menghalangi kita untuk bertualang ke tempat asing. “Mengerjakan pe-er” dengan riset terlebih dahulu dan mempelajari kata-kata dasar yang sering digunakan akan sangat berguna, namun yang lebih penting adalah bersikap ramah dan sopan. Komunikasi disebut baik bukan dari baiknya bahasa yang digunakan, tetapi bagaimana maksud/arti sebenarnya bisa tersampaikan. Selamat bertualang!
soal bahasa, salah satu yang bikin iri adalah Agustinus Wibowo.