Hidup harus direncanakan

Saya pikir, prinsip “let if flow” dalam hidup harus disikapi dengan bijaksana. Mengutip tulisan Dee di Rectoverso: ”I’d like to find the guy who invented the proverb ‘go with the flow’ and lead him to an ocean full of hungry sharks. And see how he would flow. I’d really like to know” –(Rectoverso, Grow a Day Older, halaman 79). Saya suka sekali pikiran ini.

Banyak sekali orang yang bersilangan jalan hidup dengan saya dan menyentuh saya dengan pengaruhnya, dan salah satunya adalah mantan bos nya yang sekarang bekerja di DR Congo (If you read this, Pak, I want to say thank you). Dulu kami sangat sering “bertengkar” dan salah satu penyebabnya adalah sifat saya yang tidak perduli pada hidup saya sendiri. Saya sering menulis tentang beliau ini sebenarnya, dan mungkin akan menulis lagi di waktu-waktu mendatang. Salah satu “nasihat” beliau yang sangat saya ingat sampai saat ini terjadi pada suatu hari di tahun 2005.

Saya mempunyai banyak sekali impian dalam hidup, termasuk salah satunya adalah sekolah di luar negeri. Negara yang diinginkan boleh berbeda-beda, jurusan berganti-ganti, tetapi keinginan untuk itu semakin lama semakin kuat. Nah, suatu hari dia –di antara kesibukannya yang luar biasa – datang ke ruangan saya dan bertanya, apa yang sebenarnya saya inginkan dan telah saya lakukan untuk mencapainya? Dia melihat bahwa saya melakukan banyak riset, mengisi banyak formulir dan berencana untuk menunggu, apa hasilnya itu yang akan terjadi. Si bos terdiam sejenak kemudian duduk di samping saya. Dia bilang, itu kurang tepat.

Seperti pemburu yang menghabiskan waktu dan peluru untuk menembak ke sekawanan burung yang tidak jelas, dan hanya berharap akan mendapatkan burung yang dia mau. Pemburu yang baik akan memilih burung terbaik yang diinginkan dan membidiknya. Jika ilmu dan keterampilan belum memadai, maka berlatihlah, tetapi pastikan bahwa itu yang terbaik yang bisa kita dapatkan. Waktu tidak dapat terulang. Kalau memilih sekolah dijadikan sebuah contoh, bayangkanlah seperti ini. Satu tahun di mana pun (di sekolah mana pun), tetap satu tahun. Kita tetap harus kerja keras, tetap jauh dari keluarga, tetap kesepian… tetapi hasilnya akan tercantum dalam hidup kita –atau ekstrimnya dalam CV kita- seumur hidup. Dia lalu menanyakan apa yang paling saya inginkan dalam hidup, lalu mengetik kata kunci di google… dan akhirnya membantu saya memilihkan sekolah terbaik yang saya inginkan, yang saya butuhkan, dan butuh kerja keras untuk mewuudkannya. Saat ini saya bisa bilang bahwa saya baru selesai sekolah, dan sekolah yang saya datangi itu adalah sekolah yang ditemukan waktu browsing dengan si bos (yang jika saya flash back, saya ingat bahwa sekolah ini bagai sekolah impian karena berbiaya mahal dan persyaratannya sulit).

Bagi saya, hidup adalah soal memilih, dan tidak ada pilihan yang benar dan salah, hanya memilih yang tepat pada saat yang tepat. Saya tidak bilang bahwa “let if flow” atau “jalani saja” adalah salah, karena untuk menikmati hidup harus ada kepasrahan dan memberikan ruang untuk perubahan. Yang saya maksudkan adalah menjalani hidup bukan seperti menunggu perahu di dermaga antah berantah. Kita tidak tahu perahu itu datang dari mana dan akan menuju ke mana. Untuk berlayar setidaknya kita harus tahu tempat yang akan dituju dan yakin bahwa perahu yang kita naiki akan menuju ke sana.

Hidup memang tidak bisa menunggu, tetapi bukan berarti harus terburu-buru. Hidup harus direncanakan.

2 Responses

  1. Aku setuju dengan tulisanmu, Jul!
    Tak perlu diragukan, hidup adalah sesuatu yang patut direncanakan.

    Dan kalau boleh sedikit menambahi, aku yakin kamu juga sudah memikirkan tapi mungkin kamu belum menuliskannya, hidup juga perlu dievaluasi.

    Dari setiap rencana, dari setiap apa yang terealisasi dan tidak terlaksana, semua akan bisa jadi bahan perencanaan untuk ke depannya.

    Mari kita semakin merayakan hidup!

    tentunya Don, kan monitoring dan evaluasi itu bagian dari perencanaan hehe setujuuuuu…

  2. Sekarang, kemana perahumu akan berlayar Jul? Sudah menentukan koordinat? :)

    Wah, kalau perahu berlayar ke arah mana sudah jelas dari semenjak dulu, hanya mampir mampir dulu dan partnernya gonti ganti terus huehehehe :p

Leave a Reply