Sang Maestro: RA Kosasih

Anda percaya sinkronisitas? Saya percaya. Jadi saya tidak begitu heran ketika tiba-tiba di televisi (TVRI Bandung) ada liputan khusus tentang RA Kosasih, sang maestro pencipta komik wayang indonesia yang tersohor itu. Umur beliau sekarang 89 tahun! Masih sehat, masih aktif membaca dan menggambar (saya langsung malu hati… bisa jadi penyemangat nih kalau nanti tiba-tiba malas). Kenapa saya bilang sinkronisitas, karena baru kemarin saya beli komik Bharatayudha. Rencananya memang mau koleksi lagi semua (mau beli yang edisi hard cover aja, biar lebih awet)

Yang bikin kaget (dan jadi sedih dan marah sebenarnya) adalah bahwa beliau tidak mendapat royalti untuk penjualan bukunya. Gilaaaa…. Sebegitu populernya, dengan entah berapa kali cetak ulang sampai sekarang, ga dapat royalti? Jadi “dalih-nya” adalah dulu waktu beli dengan sistem beli putus. Waktu dikonfirmasi, beliau menjawab dengan nada biasa saja. Bahwa kalau menuntut, butuh waktu, uang, sewa pengacara dll… jadi ya sudahlah. Lagipula bukan hanya beliau yang “dirugikan” seperti itu. Banyak pelukis yang nasibnya sama. Jadi menurut beliau, tahu komiknya banyak dibaca orang sudah cukup senang.

Kalau anda penggemar komik wayang RA Kosasih, pasti tahu bahwa cerita yang digambarkan agak berbeda dengan cerita-cerita wayang yang dikenal sekarang. Tidak ada cerita srikandi yang jadi istri arjuna, atau punakawan-punakawan yang setia itu. Ini karena cerita yang ditulis beliau itu diterjemahkan langsung dari versi India, walau pakaian yang dikenakan adalah pakain sunda. Komik hitam putih yang mengesankan. Jika anda masih punya koleksinya, silahkan lihat lagi. Saya dulu benci sekali tokoh sangkuni karena ekspresi wajah liciknya memang tergambarkan!

Kembali ke soal liputan tadi, jadi sedih :( Apalagi melihat hidupnya yang begitu sederhana. Tapi saya sangat bersyukur bisa lihat profil diri sang maestro yang waktu kecil sangat saya idolakan (eh, sekarang juga masih hehehe) Mudah-mudahan jasa beliau yang telah bikin orang lain senang (dengan karyanya) dan juga keikhlasan beliau menjalani hidup mendapat balasan berkah yang berlimpah. Amin!

2 Responses

  1. Royalti oh royalti..:)
    Sebegitu rendahkah penghargaan kita terhadap “anak budaya” yang sudah kita nikmati ya..:)

    Menyedihkan memang….

  2. Ya ampun, mestinya aku baca tulisan ini dulu, baru komentar di Kenapa Saya Menggemari Komik?

    Sudah dapat ya..

    Prihatin dengan nasib Pak RA Kosasih.

Leave a Reply